Minat Studi Geo-Informasi untuk Manajemen Bencana dan Perencanaan Spasial kembali melaksanakan kegiatan kuliah lapangan sebagai bentuk pendalaman materi pada mata kuliah Modul D Perencanaan Pengembangan Wilayah Berbasis Pengurangan Risiko Bencana. Kuliah lapangan ini dilaksanakan pada hari Kamis – Sabtu, 11 – 13 Desember 2025 di Kabupaten Banjarnegara dengan Dosen pembimbing Prof. Dr. Junun Sartohadi, M.Sc.
Kegiatan kuliah lapangan ini bertujuan supaya mahasiswa dapat mengidentifikasi dan menganalisis secara langsung faktor-faktor penyebab (geologi, topografi, hidrologi, tata guna lahan) serta mekanisme terjadinya bencana longsor yang telah terjadi di Banjarnegara. Mahasiswa mampu mengkaji dan mendokumentasikan dampak bencana longsor terhadap aspek sosial-ekonomi (permukiman, mata pencaharian), infrastruktur, dan lingkungan wilayah studi. Selain itu mahasiswa mampu mengidentifikasi dan mengkritisi berbagai strategi pengembangan wilayah dan pemanfaatan lahan yang telah/sedang diterapkan di wilayah rawan bencana, termasuk konsep relokasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Mahasiswa juga dapat mempelajari dan menganalisis berbagai upaya mitigasi bencana hidrometeorologis (khususnya yang memicu longsor) yang telah dilakukan, baik mitigasi struktural maupun non-struktural. Mahasiswa diharapkan juga dapat mengidentifikasi dan mengevaluasi teknik-teknik pengelolaan air permukaan (drainase) dan air tanah yang bertujuan untuk mengatur volume dan kecepatan aliran sehingga tidak memicu pergerakan massa tanah (longsor). Pada akhirnya mahasiswa dapat mengkaji peran pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), akademisi, dan partisipasi masyarakat dalam siklus manajemen bencana, mulai dari pra-bencana, saat bencana, hingga pasca-bencana.
Materi yang disampaikan dalam kuliah lapangan Banjarnegara sebagai berikut:
Pemahaman akan peta geologi yang merekam informasi bawah permukaan dan peta tanah yang merekam di atas permukaan harus dipahami secara komprehensif untuk memahami kondisi sumberdaya lahan dalam upaya analisis kebencanaan.
Wilayah kabupaten Banjarnegara di sekitar desa Ratamba merupakan wilayah dengan formasi batuan tersier yang sekitarnya ditumpangi formasi batuan quarter. Wilayah tersebut berciri memiliki potensi bencana longsor karena terdapat batuan tersier yang teksturnya liat, sementara batuan di atasnya menyerap air ehingga menjadi bidang gelincir.
Untuk menganalisis potensi bencana dapat dilihat pada alur-alur sungai pada suatu Daerah Aliran Sungai, pada kondisi Geologi seperti di Desa Ratamba, air lebih banyak diserap sehingga terbentuk alur sungai yang jarang yang memberikan ciri potensi longsor yang lebih besar. Pada alur-alur yang rapat, air dapat dengan baik dialirkan sehingga tidak terbentuk bidang gelincir.
Wilayah sekitar Desa Ratamba merupakan wilayah yang sudah selesai proses yang terjadi, tidak ada proses geologi yang terjadi, tinggal proses pelapukan, erosi dan pengendapan.
Kita dapat mengantisipasi kejadian longsor di Desa Ratamba dengan memperhatikan aliran yaitu dengan mengontrol volume dan kecepatan aliran.
Wilayah desa Pandanarum mengalami kejadian longsor yang cukup besar dan berdampak pada permukiman di dusun Situkung. Masyarakat direlokasi menuju tempat yang aman karena kerusakan yang parah pada rumah bahwa banyak rumah terbawa material longsor.
Potensi longsor dapat kembali terjadi pada lokasi yang sama, terutama apabila dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi.