Sragen – Sebuah penelitian komprehensif mengungkapkan bahwa fenomena iklim global memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan vegetasi dan produktivitas padi di Kabupaten Sragen, menjadi perhatian penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya SDG 2 tentang Zero Hunger dan SDG 13 tentang Climate Action. Penelitian yang menganalisis data tahun 2015, 2018, dan 2022 ini menggunakan teknologi penginderaan jauh melalui Vegetation Health Index (VHI) dan Standardized Precipitation Index (SPI).
Hasil penelitian menunjukkan tahun El Niño 2015 menjadi periode paling kritis dengan area kekeringan parah mencapai 16.600 hektar, mengancam ketahanan pangan lokal. Defisit curah hujan sangat berat terjadi pada Juni hingga Oktober dengan intensitas hanya 13-28 milimeter per bulan, jauh di bawah kebutuhan normal tanaman padi. Kondisi berbeda terjadi pada tahun La Niña 2022 yang menampilkan kesehatan vegetasi optimal dengan area tanpa kekeringan tetap tinggi mencapai 58.449 hingga 66.579 hektar.
Menariknya, tahun normal 2018 justru mengalami kondisi kekeringan yang cukup parah meskipun tanpa pengaruh fenomena iklim ekstrem. Area tanpa kekeringan pada Oktober 2018 hanya tersisa 17.176 hektar, menunjukkan pentingnya aksi adaptasi perubahan iklim sebagaimana diamanatkan SDG 13.
“Hasil penelitian ini membuktikan bahwa infrastruktur waduk dan sistem irigasi di Kabupaten Sragen berperan sangat krusial dalam memitigasi dampak kekeringan dan menjaga ketahanan pangan. Meskipun tahun 2015 mengalami kekeringan ekstrem, produktivitas padi masih tercatat 6,45 ton per hektar, menunjukkan resiliensi sistem pertanian dalam menghadapi perubahan iklim,” ungkap peneliti.
Analisis spasial menunjukkan wilayah timur dan utara Kabupaten Sragen konsisten lebih rentan terhadap kekeringan. Penelitian merekomendasikan peningkatan infrastruktur air, implementasi sistem peringatan dini berbasis satelit, adopsi varietas padi toleran kekeringan, dan pemberdayaan petani sebagai strategi adaptasi perubahan iklim yang sejalan dengan target SDG 2 untuk meningkatkan produktivitas pertanian berkelanjutan dan SDG 13 untuk memperkuat ketahanan terhadap bahaya terkait iklim.
Data produktivitas menunjukkan tahun 2022 mencatat hasil tertinggi dengan produksi mencapai 678.575 ton, mengkonfirmasi pentingnya aksi iklim dalam mendukung ketahanan pangan regional.

Penulis: Bayu D. A. Nugroho, M.Agr., Ph.D., Dr. Much. Taufik Tri Hermawan, S.Hut., M.Si., Muhammad Afif Farhan, S.Geo dan Afifatul Husna Al Adilah, S.P.