Longsor koseismik merupakan bahaya sekunder signifikan yang dipicu oleh getaran gempabumi, di mana guncangan seismik berinteraksi dengan kondisi lereng hingga menurunkan kuat geser material dan melampaui ambang batas kestabilannya. Berdasarkan studi kasus rangkaian gempa Lombok tahun 2018, tercatat sebanyak 3.941 kejadian longsor yang berkembang secara dinamis mengikuti urutan gempa utama bermagnitudo hingga 6,9 Mw. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebaran longsor terkonsentrasi kuat di bagian Utara Pulau Lombok, membentuk “sabuk” kerawanan tinggi di sekitar Kompleks Gunungapi Rinjani, khususnya di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur. Dinamika ini mencerminkan adanya proses pelemahan lereng yang progresif, di mana guncangan awal menurunkan stabilitas material vulkanik sehingga memicu keruntuhan yang lebih masif dan meluas pada peristiwa seismik susulan.
Analisis mekanis mengungkapkan bahwa faktor pemicu utama longsor didominasi oleh parameter seismik seperti jarak dari episenter, Peak Ground Acceleration (PGA), dan intensitas Modified Mercalli Intensity (MMI), serta adanya deformasi permukaan yang terdeteksi melalui metode DInSAR. Faktor pengontrol lingkungan, seperti kemiringan lereng yang terjal, elevasi tinggi (>1000 mdpl), dan keberadaan material vulkanik muda (Qhv) yang tidak terkonsolidasi, menjadi penentu utama lokasi kegagalan lereng. Melalui pendekatan machine learning, model Random Forest (RF) terbukti sebagai algoritma paling stabil dan akurat dalam memetakan zonasi ini dengan nilai akurasi sekitar 75% dan AUC di atas 0,8. Hasil zonasi tersebut sangat krusial sebagai landasan kuantitatif bagi perencanaan tata ruang berbasis risiko serta penentuan prioritas mitigasi bencana guna mengurangi dampak ekonomi dan korban jiwa di masa depan. Penelitian ini dilakukan oleh Akbar Akhmad, dibawah bimbingan Dr.rer.nat. Muhammad Anggri Setiawan, S.Si., M.Si. sebagai Pembimbing I dan Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. sebagai Pembimbing II.


Gambar 1. Hasil Penelitian longsor koseismik