Mahasiswa Geo-Informasi untuk Manajemen Bencana dan Perencanaan Spasial melaksanakan kuliah lapangan dengan pembimbing Prof. Dr. Junun Sartohadi, M.Sc. pada 4 Oktober 2025 di DAS Bompon, Magelang. Kuliah lapangan dilaksanakan untuk menjelaskan proses terjadinya longsor dan perannya dalam penilaian bencana alam. Dengan kuliah lapangan ini mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi morfologi longsor secara langsung meliputi mahkota longsor, bidang gelincir, material endapan longsor; memahami proses geomorfologis yang unik di DAS Bompon dan memahami tingkat aktivitas longsor di DAS Bompon.
Secara teoretis, proses erosi dan transportasi material di sebuah lereng akan menghasilkan gradasi ukuran butir. Partikel yang lebih halus (seperti lempung dan lanau) akan lebih mudah terangkut oleh air, sementara partikel yang lebih kasar (seperti pasir, kerikil, hingga bongkah) akan cenderung tertinggal di bagian atas lereng atau bergerak lebih lambat. Dengan demikian, teori umum menyatakan bahwa: Material di lereng bagian atas seharusnya cenderung lebih kasar, dan material yang terendapkan di kaki lereng (hasil erosi) seharusnya didominasi oleh fraksi yang lebih halus.
Di lokasi studi, ditemukan bahwa material penyusun lereng bagian atas didominasi oleh material berbutir halus. Sebaliknya, material yang ditemukan di endapan bagian bawah lereng (hasil longsoran) justru bersifat lebih kasar. Fenomena ini mengindikasikan adanya proses geomorfologis yang lebih kompleks di wilayah ini. Hipotesis yang dapat dibangun dari temuan ini adalah:
- Material Dasar yang Halus: Material induk (batuan dasar atau tanah purba) di wilayah Bompon adalah material vulkanik berbutir halus. Material ini diduga berasal dari aktivitas vulkanik Gunung Api Tersier Kulon Progo yang lebih tua. Lapisan halus inilah yang menjadi material utama penyusun lereng.
- Adanya Lapisan Penutup yang Lebih Muda: Di atas lapisan material halus tersebut, terdapat endapan material yang lebih muda dan bersifat lebih kasar. Lapisan ini kemungkinan berasal dari proses vulkanik yang lebih baru atau hasil dari proses pelapukan batuan beku di sekitarnya.
- Proses Erosi yang Terjadi: Longsor dan erosi yang terjadi saat ini menggerus lapisan penutup yang kasar tersebut. Akibatnya, material yang longsor dan terendapkan di kaki lereng adalah material kasar yang lebih muda, sementara material halus yang lebih tua masih tersingkap di lereng bagian atas.
Selain itu, analisis morfologi melalui Digital Elevation Model (DEM) dapat digunakan untuk mengidentifikasi tingkat aktivitas longsor. Morfologi yang terlihat kasar, bergelombang, dan tidak beraturan pada citra DEM sering kali menjadi indikasi bahwa wilayah tersebut mengalami proses gerakan massa yang masih aktif atau baru saja terjadi. Analisis data DEM di wilayah studi menunjukkan morfologi yang sangat kasar dan tidak teratur. Kenampakan ini mengonfirmasi pengamatan visual di lapangan bahwa terdapat banyak sekali jejak longsoran. Tekstur kasar pada DEM ini menjadi penanda kuat bahwa proses gerakan massa di Bompon masih sangat aktif dan berpotensi terus terjadi, terutama saat curah hujan tinggi. Kombinasi antara material halus yang mudah jenuh air di lapisan bawah dengan material kasar yang lebih permeabel di atasnya dapat menciptakan bidang gelincir yang memicu longsor.