Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan umumnya terjadi pada wilayah perbukitan. Intensitas longsor terjadi secara signifikan pada lereng yang curam. Mekanisme longsor dapat dipahami menggunakan teknologi penginderaan jauh. Teknologi penginderaan jauh yang dapat menghasilkan informasi topografi secara detail akan mendukung analisis stabilitas lereng. Untuk mengetahui hal tersebut lebih lanjut, sebuah rencana penelitian dilakukan guna mengkaji analisis stabilitas lereng di salah satu desa yang terletak di Kabupaten Banjarnegara.
Rencana penelitian ini disampaikan oleh Raudah Husna dalam agenda ujian proposal yang dilaksanakan pada Senin, 28 September 2026, bertempat di Ruang Sidang B Lantai 5 Sekolah Pascasarjana. Penelitian ini dilakukan dibawah bimbingan Dr. Eng. Guruh Samodra, S.Si., M.Sc. sebagai Pembimbing Utama dan Dr.rer.nat. Muhammad Anggri Setiawan, M.Si. sebagai Pembimbing Pendamping. Penelitian ini dilakukan di Desa Ratamba, Kecamatan Pejawaran. Desa Ratamba terletak pada Formasi Kalibiuk yang memiliki kandungan batuan lempung rawan longsor. Berdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Banjarnegara tahun 2019-2023, Desa Ratamba termasuk ke dalam desa dengan tingkat risiko sedang. Hal ini menjadi dasar penting dalam penentuan lokasi dan topik penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengintegrasikan data Light Detection and Ranging (LiDAR) yang akan menghasilkan Digital Elevation Model (DEM) dan model Scoops3D, sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh United States Geological Survey (USGS) untuk melakukan analisis stabilitas lereng secara 3D. Pemodelan 3D menggunakan pendekatan metode keseimbangan batas untuk mencari potensi bidang gelincir. Untuk setiap potensi longsoran atau runtuhan, Scoops3D mengevaluasi kestabilan permukaan gelincir rotasional berbentuk sferis/bola yang mencakup sejumlah sel DEM. Simulasi model menggunakan data masukan seperti DEM, parameter geoteknik (kohesi tanah, sudut geser dalam, dan berat volume), ketebalan tanah, dan muka air tanah. Pengumpulan data parameter geoteknik, ketebalan tanah, dan muka air tanah dilakukan melalui survei lapangan.
Hasil pemodelan ini akan menghasilkan informasi terkait distribusi spasial nilai faktor keamanan (Fs), klasifikasi kestabilan lereng, estimasi volume potensi longsor, dan tingkat akurasi pemodelan. Nilai faktor keamanan akan diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkat kondisi seperti rawan/tidak stabil, kritis/hampir stabil, dan stabil. Kemudian, estimasi volume akan dihitung berdasarkan volume massa tanah/batuan yang berada di atas bidang gelincir kritis untuk setiap potensi keruntuhan 3D yang teridentifikasi. Pada tahap uji akurasi model, nilai faktor keamanan akan dibandingkan dengan data/peta inventori longsor menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) pada bahasa pemrograman R. Tingkat akurasi model akan dinilai berdasarkan nilai Area Under Curve (AUC).
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pemahaman terkait pemanfaatan penggunaan data LiDAR dan model Scoops3D, dasar untuk rencana mitigasi struktural dan non-struktural, dan upaya peningkatan kewaspadaan pada area yang teridentifikasi rawan longsor di wilayah penelitian.