Upaya peningkatan keselamatan lingkungan pendidikan terus menjadi perhatian penting dalam pengelolaan sekolah di Indonesia. Hal ini sejalan dengan implementasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mendorong kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bencana, termasuk kebakaran. Menjawab tantangan tersebut, sebuah penelitian tesis mengkaji analisis spasial risiko kebakaran pada lingkungan sekolah dengan studi kasus di dua sekolah menengah atas di Kabupaten Bantul.
Penelitian ini disampaikan oleh Phisca Zaky Maulana dalam agenda ujian proposal yang dilaksanakan pada Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Ruang Sidang C Lantai 5 Sekolah Pascasarjana. Penelitian ini dilakukan dibawah bimbingan Dr. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc. sebagai Pembimbing Utama dan Dr.rer,nat. Arry Retnowati, M.Sc. sebagai Pembimbing Pendamping. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses akademik dalam mengembangkan kajian berbasis mitigasi bencana di lingkungan pendidikan. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 2 Bantul dan SMA Negeri 1 Pajangan yang memiliki karakteristik lingkungan berbeda. SMA Negeri 2 Bantul berada di kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi, sementara SMA Negeri 1 Pajangan berbatasan langsung dengan area perkebunan, persawahan, dan hutan. Perbedaan kondisi spasial ini menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat risiko kebakaran di masing-masing lokasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengombinasikan data spasial dan nonspasial. Data spasial meliputi penggunaan lahan, jaringan jalan, serta denah bangunan sekolah. Sementara itu, data nonspasial mencakup jumlah warga sekolah, kondisi material bangunan, hingga riwayat pelatihan mitigasi bencana. Analisis risiko dilakukan dengan pendekatan tiga komponen utama, yaitu bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Pembobotan ketiga komponen tersebut diolah menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang kemudian diintegrasikan melalui analisis spasial berbasis overlay. Hasil penelitian ini menghasilkan pemodelan zonasi risiko kebakaran berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Melalui pemodelan tersebut, area sekolah dapat diklasifikasikan ke dalam tingkat risiko dari rendah hingga tinggi. Zonasi ini memungkinkan identifikasi titik-titik prioritas yang memerlukan penanganan khusus, seperti area kantin, instalasi listrik, serta ruang dengan tingkat aktivitas tinggi.
Lebih lanjut, hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi mitigasi kebakaran yang lebih efektif, adaptif, dan berbasis karakteristik lokal masing-masing sekolah. Dengan pendekatan berbasis spasial, upaya pengurangan risiko tidak hanya bersifat umum, tetapi juga lebih tepat sasaran. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi teknologi geospasial dalam manajemen risiko bencana di lingkungan pendidikan.